Self Control, Locus Control and Self Management

Standar

1.             Self Control Theory

Thompson mengemukakan bahwa self control adalah keyakinan bahwa seseorang dapat mencapai hasil-hasil yang diinginkan lewat tindakannya sendiri. Rodin mengungkapkan self control adalah perasaan bahwa seseorang dapat membuat keputusan dan mengambil tindakan yang efektif untuk menghasilkan akibat yang diinginkan dan menghindari akibat yang tidak diinginkan. Kazdin mengemukakan bahwa  self control biasanya mengacu pada tingkah laku bahwa seseorang secara sengaja dilakukan untuk mendapatkan hasil pemilihan diri. Dalam Ensiklopedi psikologi, self control merupakan kemampuan untuk menangguhkan kesenangan naluriah langsung dan keputusan untuk memperoleh tujuan masa depan yang biasanya dinilai secara sosial (Dion, 2011).

Menurut Calhoun dan Acocella self control merupakan pengaruh seseorang terhadap, dan pengaturan tentang, fisiknya, tingkah laku dan proses-proses psikologisnya. Dengan kata lain, sekelompok proses yang mengikat dirinya. Ini merupakan pengertian secara umum. Beberapa psikolog penganut behaviorisme memberikan batasan yang ketat terhadap istilah “Self control”. Batasan tersebut adalah : Seseorang menggunakan self control untuk tujuan jangka panjang, seseorang sengaja menghindar dari perilaku yang biasa dikerjakan atau yang segera memuaskannya yang tersedia secara bebas baginya, dan ingin menggantinya dengan perilaku yang kurang biasa atau menawarkan kesenangan yang tidak segera dirasakan. Lebih lanjut, kegiatan self control (bisa diwujudkan) dengan manipulasi variabel internal atau eksternal yang mempengaruhi perilaku yang bersangkutan (Dion, 2011).

2.             Locus of Control (LOC)

Konsep tentang Locus of control (pusat kendali) pertama kali dikemukakan oleh Rotter pada tahun 1966, seorang ahli teori pembelajaran sosial. Locus of control merupakan salah satu variabel kepribadian (personility), yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap mampu tidaknya mengontrol nasib (destiny) sendiri. Individu yang memiliki keyakinan bahwa nasib atau peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya berada dibawah kontrol dirinya, dikatakan individu tersebut memiliki internal locus of control. Sementara individu yang memiliki keyakinan bahwa lingkunganlah yang mempunyai kontrol terhadap nasib atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya dikatakan individu tersebut memiliki external locus of control.

Kreitner & Kinichi (2005) mengatakan bahwa hasil ypang dicapai locus of control internal dianggap berasal dari aktifitas dirinya. Sedangkan pada individu locus of control eksternal menganggap bahwa keberhasilan yang dicapai dikontrol dari keadaan sekitarnya. lebih lanjut dinyatakan bahwa dimensi internal-external locus of control dari Rotter memfokuskan pada strategi pencapaian tujuan tanpa memperhatikan asal tujuan tersebut.

Bagi seseorang yang mempunyai internal locus of control akan memandang dunia sebagai sesuatu yang dapat diramalkan, dan perilaku individu turut berperan didalamnya. Pada individu yang mempunyai external locus of control akan memandang dunia sebagai sesuatu yang tidak dapat diramalkan, demikian juga dalam mencapai tujuan sehingga perilaku individu tidak akan mempunyai peran didalamnya (Kreitner dan Kinicki, 2005)

Individu yang mempunyai external locus of control diidentifikasikan lebih banyak menyandarkan harapannya untuk bergantung pada orang lain dan lebih banyak mencari dan memilih situasi yang menguntungkan. Sementara itu individu yang mempunyai internal locus of control diidentifikasikan lebih banyak menyandarkan harapannya pada diri sendiri dan diidentifikasikan juga lebih menyenangi keahlian-keahlian dibanding hanya situasi yang menguntungkan.

3.             Self  Management Theory

Stoner (Jawwad, 2003) mengemukakan bahwa management merupakan proses perencanaan, pengendalian upaya dari suatu organisasi, dan penggunaan segala sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Follet (Jawwad, 2003) mendefinisikan management sebagai seni, karena dalam melakukan pekerjaan dibutuhkan keterampilan khusus. Edelson (Jawwad, 2003) mengemukakan bahwa self-management adalah istilah psikologi yang digunakan untuk menjelaskan proses mencapai kemandirian individu (personal autonomy).

Jawwad (2003) menyimpulkan bahwa pada dasarnya self-management adalah pengendalian diri (pikiran, ucapan, dan perilaku) yang mengakibatkan penghindaran individu terhadap hal yang tidak sesuai dan peningkatan perbuatan yang sesuai. Self-management dapat didefinisikan sebagai proses perubahan kapasitas individu baik itu kognitif dan fisik individu agar mencapai tujuan yang telah dicanangkan. Nalagawa-Kogan, dkk (McGowan, tanpa tahun) mendefinisikan self-management sebagai suatu perlakuan yang diberikan untuk memberikan hasil yang spesifik, perlakuan tersebut dikombinasikan dengan teknik biologis, psikologis dan intervensi sosial, dengan proses regulasi dari hasil yang telah dicanangkan sebelumnya.

Sumber:

Dion. 2011. Defenisi self control (online), (http//:www.cikdion.blogspot.com) diakses pada 19 Maret 2012.

Kreitner dan Kinicki. 2005. Perilaku Organisasi, buku 1 Jakarta : Salemba Empat (Teori online.com)

Jawwad, M. A. A. (2003). Manajemen diri. Bandung: Syaamil Cipta Media.

McGowan, P. (Tanpa Tahun). Self-management: A background paper. Diunduh dari http://www.coag.uvic.ca/cdsmp/documents/What_is_Self-Management.pdf